Tiket Masuk Monas. Monumen Nasional atau lebih dikenal dengan Monas atau Tugu Monas merupakan ikon kota Jakarta yang terkenal di seluruh dunia. Tinggi Monas adalah 132 meter (433 kaki), selain menjadi ikon kota Jakarta tugu monas juga didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Monumen Nasional (Monas) dibangun oleh Presiden Soekarno ini bermahkotakan lidah api yang dilapisi lembaran emas dan diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono.gambar tugu monas

Sejarah Monumen Nasional (MONAS)

Gagasan awal pembangunan Monas muncul setelah sembilan tahun kemerdekaan diproklamirkan. Beberapa hari setelah peringatah HUT ke-9 RI, dibentuk Panitia Tugu Nasional yang bertugas mengusahakan berdirinya Tugu Monas. Panitia ini dipimpin Sarwoko Martokusumo, S Suhud selaku penulis, Sumali Prawirosudirdjo selaku bendahara dan dibantu oleh empat orang anggota masing-masing Supeno, K K Wiloto, E F Wenas, dan Sudiro.
Panitia yang dibentuk itu bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan Monas yang akan didirikan di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta . Termasuk mengumpulkan biaya pembangunannya yang harus dikumpulkan dari swadaya masyarakat sendiri.
Setelah itu, dibentuk panitia pembangunan Monas yang dinamakan ”Tim Yuri” diketuai langsung Presiden RI Ir Soekarno. Melalui tim ini, sayembara diselenggarakan dua kali. Sayembara pertama digelar pada 17 Februari 1955, dan sayembara kedua digelar 10 Mei 1960 dengan harapan dapat menghasilkan karya budaya yang setinggi-tingginya dan menggambarkan kalbu serta melambangkan keluhuran budaya Indonesia.
Dengan sayembara itu, diharapkan bentuk tugu yang dibangun benar-benar bisa menunjukan kepribadian bangsa Indonesia bertiga dimensi, tidak rata, tugu yang menjulang tinggi ke langit, dibuat dari beton dan besi serta batu pualam yang tahan gempa, tahan kritikan jaman sedikitnya seribu tahun serta dapat menghasilkan karya budaya yang menimbulkan semangat kepahlawanan.
Oleh Tim Yuri, pesan harapan itu dijadikan sebagai kriteria penilaian yang kemudian dirinci menjadi lima kriteria meliputi harus memenuhi ketentuan apa yang dinamakan Nasional, menggambarkan dinamika dan berisi kepribadian Indonesia serta mencerminkan cita-cita bangsa, melambangkan dan menggambarkan “api yang berkobar” di dalam dada bangsa Indonesia, menggambarkan hal yang sebenarnya bergerak meski tersusun dari benda mati, dan tugu harus dibangun dari benda-benda yang tidak cepat berubah dan tahan berabad-abad.
Namun, dua kali sayembara digelar, tidak ada rancangan yang memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan panitia. Akhirnya, ketua Tim Yuri menunjuk beberapa arsitek ternama yaitu Soedarsono dan Ir F Silaban untuk menggambar rencana tugu Monas. Keduanya arsitek itu sepakat membuat gambarnya sendiri-sendiri yang selanjutnya diajukan ke ketua Tim Yuri (Presiden Soekarno), dan ketua memilih gambar yang dibuat Soedarsono.
Dalam rancangannya, Soedarsono mengemukakan landasan pemikiran yang mengakomodasi keinginan panitia. Landasan pemikiran itu meliputi kriteria Nasional. Soedarsono mengambil beberapa unsur saat Proklamasi Kemerdekaan RI yang mewujudkan revolusi nasional sedapat mungkin menerapkannya pada dimensi arsitekturnya yaitu angka 17, 8, dan 45 sebagai angka keramat Hari Proklamasi.
Bentuk tugu yang menjulang tinggi mengandung falsafah “Lingga dan Yoni” yang menyerupai “Alu”sebagai “Lingga” dan bentuk wadah (cawan-red) berupa ruangan menyerupai “Lumpang” sebagai “Yoni”. Alu dan Lumpang adalah dua alat penting yang dimiliki setiap keluarga di Indonesia khususnya rakyat pedesaan. Lingga dan Yoni adalah simbol dari jaman dahulu yang menggambarkan kehidupan abadi, adalah unsur positif (lingga) dan unsur negatif (yoni) seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, merupakan keabadian dunia.
Bentuk seluruh garis-garis arsitektur tugu ini mewujudkan garis-garis yang bergerak tidak monoton merata, naik melengkung, melompat, merata lagi, dan naik menjulang tinggi, akhirnya menggelombang di atas bentuk lidah api yang menyala. Badan tugu menjulang tinggi dengan lidah api di puncaknya melambangkan dan menggambarkan semangat yang berkobar dan tak kunjung padam di dalam dada bangsa Indonesia.
ujung monas

Selain untuk mengenang perjuangan rakyat, saat ini tugu Monas juga terbuka untuk umum lho! Namun untuk memasukinya pengunjung harus membeli tiket. Jam buka Monas adalah setiap hari dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore, kecuali pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum karena dilakukan perawatan.

Di bagian dasar Monas, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia pada kedalaman 3 meter. Museum ini memiliki luas 80 x 80 meter yang dapat menampung pengunjung hingga mencapai 500 orang. Disana juga terdapat lift yang akan membawa prngunjung mencapai ke puncak Monas setinggi 115 meter, dan dipuncaknya pengunjung juga dapat menyaksikan panorama Jakarta dari puncak Tugu Monas. Untuk kapasitas lift dapat menampung maksimal 11 orang  untuk sekali angkut dan pelataran puncak Monas sendiri hanya mampu menampung maksimal dapat 50 orang saja, jadi harus gantian ya!!!.

Harga tiket masuk Tugu Monas adalah sebesar Rp 5 ribu per orang untuk dewasa, mahasiswa Rp 3 ribu, dan anak-anak Rp 2 ribu. Sedangkan untuk dapat menggunakan lift untuk naik ke puncak Monas, pengunjung harus kembali membayar tiket lift sebesar Rp 10 ribu per orang untuk dewasa atau mahasiswa Rp 5 ribu sangat murah kan.

Incoming search terms:

  • harga tiket masuk monas
  • tiket masuk monas
  • jam buka monas
  • jadwal buka monas
  • jam operasional monas
  • harga tiket monas
  • Tiket monas
  • jam buka monas 2016
  • tiket monas 2016
  • harga tiket masuk monas 2016
  • jadwal monas
  • jam operasional monas 2016
  • harga masuk monas
  • masuk monas
  • harga tiket monas 2016
Harga Tiket Masuk Monas Desember – Januari 2017
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


About Us -Disclaimer -Privacy Policy - Contact Us
error: Content is protected !!